Inilah Mobil-Mobil Volkswagen yang Tidak Pernah Dijual

Sejak dulu Volkswagen dikenal sebagai mobil yang merakyat sebagaimana terjemahan merek dagang mereka. Banyak mobil-mobil mereka yang hadir dan sukses menarik minat konsumen di seluruh dunia sebut saja VW Beetle. Tapi bukan berarti VW tidak bereksperimen dan berkreasi untuk menciptakan model-model. Ide-ide liar inilah yang kemudian melahirkan terobosan seperti Phaeton, Golf GTI, dan bermacam model non ‘merakyat’ nan menyenangkan.

Dilansir dari autocar.co.uk, VW sebenarnya memiliki banyak model lain yang disiapkan. Namun beberapa di antara prototipe ini tak pernah dilepas ke pasar, entah apa alasannya. Koleksi mobil-mobil ini hadir di museum kelolaan VW di Wolfsburg: ZeitHaus dan Stiftung.

Di kedua museum ini ditampilkan mobil konsep, prototipe, bahkan model yang tak pernah diperlihatkan kepada publik. Banyak model adalah sedan atau hatchback. Mobil-mobil ini mungkin menjadi cikal bakal VW masa kini. Kira-kira ‘engkong’-nya siapa ya?

1963 EA 128

Sedan menawan bertenaga kuat tidak ada dalam kamus VW di tahun 1960an. Tapi para insinyur di belakang layar ternyata punya imajinasi berbeda. EA 128 dibuat guna memperdalam hubungan VW dengan Porsche, sekaligus mengangkat image VW untuk naik kelas. Pasalnya, ia terlahir sebagai sedan empat pintu berbekal mesin 2.0 liter flat-six dari Porsche 911. Begitu pula rancangan suspensi belakang, menganut komposisi sang ikon Porsche. Bertenaga 89 hp, cukup untuk membawa sedan ini berlari di jalur cepat Autobahn.

Namun sayang, EA 128 hanya bertahan sampai tahap prototipe. Para pimpinan mengkhawatirkan reaksi publik ketika melihat sedan mewah dari sebuah merek yang seharusnya merakyat. Dilema antara merek dan hasrat ini pun terus berlangsung sampai 1990an. Barulah ide EA 128 berhasil dituangkan ketika proyek VW Phaeton disetujui para pejabat perusahaan. Cikal bakal Phaeton? Tampaknya sah-sah saja bila menganggap demikian.

1969 EA 276

Sekitar 6 tahun kemudian muncul EA 276. Model ini berhubungan erat dengan Golf generasi pertama. Inilah bentuk upaya VW mencari pengganti sang primadona, Beetle. Secara desain paling mengotak di antara purwarupa desain lain di masa itu. Mesinnya juga tidak lagi di belakang dan sudah menggerakkan roda depan. Tapi jangan keliru, EA 276 belum menggendong unit water-cooled sebagaimana Golf terlahir ke dunia. Di balik bonnet bersemayam jantung flat-four air cooled dari VW Kodok. Ia menjadi gambaran bagaimana kemajuan desain VW di masa itu dalam keterbatasan teknologi.

1971 ESVW I

ESVW I merupakan bagian dari studi terkait keselamatan penumpang. Di awal 70an VW serta pabrikan lain bekerja sama dengan Departemen Transportasi (DOT) AS mengembangkan mobil anti-maut. Pabrikan ditantang untuk menciptakan mobil teraman, tak peduli seberapa mahal atau buruk rupa, yang penting sanggup melindungi penumpang saat terjadi kecelakaan.

Lahirlah mobil ini. VW mengadopsi wajah berbahan plastik penyerap energi hantam. Di kabin, panel-panel terbungkus material empuk, berikut inovasi teknologi lain. Memang bukan sebuah model cantik, minimal dapat diasumsikan fitur-fitur keselamatan ini diadopsi ke model produksi lain.

1975 Chicco

Sebelum versi produksi si mungil Up! meluncur, banyak orang menduga VW bakal memberi nama Chicco. Nama itu membawa kembali ke 1975, saat VW bertindak sesuai jati diri untuk menciptakan mobil membumi. Mereka menumpahkan imajinasi city car kompak sekaligus lapang. Terdengar kontradiktif tapi berhasil tercipta walau hanya sebatas studi. Diukur memanjang 3,28 meter, Chico sanggup mengangkut empat penumpang.

Pemacu tiga silinder berkapasitas 0,9 liter hadir di moncong, sanggup menghasilkan 39 hp. Pada dasarnya merupakan unit empat silinder berpendingin cairan yang dipapas satu silinder. Diposisikan melintang untuk menggerakkan roda depan. Hal ini ditujukan agar ukuran kompartemen mesin tetap kompak. Ia memiliki pengaruh terkait bagaimana VW meracik city car.

1984 IRVW III

Memanfaatkan basis Jetta generasi kedua, IRVW 3 menjadi bagian riset teknologi canggih. Bayangkan sebuah sedan kompak pada tahun 1984 dibekali suspensi udara terkomputerisasi, ABS, dan alat navigasi elektronik. Jantung pacu mengandalkan unit empat silinder turbodiesel 1,8 liter, menghasilkan tenaga sebesar 180 hp. Sangat besar di masa itu, mencapai kecepatan 200 kpj di Autobahn bukan sebuah masalah. Sebagai pembanding, turbodiesel terkuat Jetta hanya sanggup gelontorkan 79 hp.

Terdengar terlalu berlebihan untuk ukuran sedan sekelas Jetta. Wajar lantaran Jetta ini digunakan untuk ‘test bed’ saja, bukan prototipe sebuah model anyar. Barulah bertahun-tahun kemudian teknologi mutakhir ini diadopsi satu per satu.

1987 T3 Magma

VW pernah mempertimbangkan gaya offroad pada T3, jauh sebelum Touareg meramaikan dunia SUV. Prototipe ini hadir pada 1984 membawa nama T3 Magma, mengubah rancangan eksterior dan Interior Transporter. Grille khusus dilubangi penerangan tambahan, dilindungi peranti offroad seperti bulbar dan winch. Tak hanya itu, rombakan desain ditujukan ke fender flare dan kelir two-tone. Agar menarik perhatian, mesin empat silinder 2,1 liter ditugaskan mempersenjatai pikap tangguh ini.

Entah atas dasar apa, yang pasti VW tidak menggolkan proyek ini. Mungkin disebabkan tidak berhasil menarik minat target konsumen, atau bisa jadi dirasa tidak perlu lantaran T3 memasuki pengujung usia di Eropa dan Amerika Utara.

AHMAD KARIM | RAJU FEBRIAN

Artikel Asli

Penulis: Bung Cahyo

Simple Man

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s