BCA Raih Penghargaan Bank Terbaik di Indonesia dan Asia

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja di Jakarta, Senin (20/6/2016).(Sakina Rakhma Diah Setiawan/Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Bank Central Asia Tbk berhasil meraih penghargaan Best Indonesian Bank dan Best Asian Bank (di luar Jepang) versi FinanceAsia. Penghargaan tersebut bertajuk Country Awards for Achievement 2017.

Kepada Kompas.com melalui pesan singkat, Jumat (30/6/2017), Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjelaskan, ini adalah kedua kalinya perseroan meraih penghargaan tersebut. BCA mengungguli bank-bank dari 14 negara lainnya.

Adapun penghargaan diterima langsung oleh Jahja di Four Seasons Hotel Hong Kong, Kamis (29/6/2017).

Beberapa bank yang masuk nominasi penghargaan di antaranya berasal dari China, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Vietnam, India, Bangladesh, Taiwan, Myanmar, Mongolia, dan Pakistan.

“Tentu bangga dan senang bahwa Indonesia bisa juga menjadi yang terbaik di suatu binis. Perbankan merupakan bisnis yang pasti di semua negara,” ujar Jahja.

Ia menuturkan, persaingan di sektor perbankan terjadi secara profesional. Diterimanya penghargaan ini, imbuh Jahja, bukan sebuah hal yang mudah lantaran BCA harus memenuhi kriteria internasional.

Pada kuartal I 2017, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp 5 triliun, tumbuh 10,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 4,5 triliun. Adapun pendapatan bunga bersih mencapai Rp 13,5 triliun.

Sementara itu, penyaluran kredit BCA pada kuartal I 2017 mencapai Rp 409 triliun. Angka tersebut tumbuh 9,4 persen dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Sumber: https://goo.gl/K55Bqr

Semester I, OJK Proyeksi Kredit Bank Mulai Tumbuh Dua Digit

Semester I, OJK Proyeksi Kredit Bank Mulai Tumbuh Dua Digit OJK menyebut, konsolidasi yang dilakukan perbankan telah rampung dan penyaluran kredit mulai tumbuh digit pada semester pertama tahun ini. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksi penyaluran kredit perbankan hingga akhir Juni atau semester pertama tahun ini berada diatas 10 persen atau tumbuh dua digit. OJK pun yakin, hingga akhir tahun ini pertumbuhan kredit perbankan akan berada pada batas atas target pertumbuhan kredit yang dipatok pada kisaran 9 persen hingga 11 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon menyebut, konsolidasi yang dilakukan perbankan telah rampung. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) pun saat ini sudah berangsur turun dan berada dikisaran 3,09 persen pada semester pertama tahun ini.

Nelson pun memperkirakan, penyaluran kredit tercatat sudah mulai tumbuh dua digit atau diatas 10 persen hingga akhir Juni 2017. Pertumbuhan kredit tersebut membaik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 8,2 persen.

“Semester II perkiraanya jauh lebih tinggi dibanding semester I, makanya saya prediksi di akhir tahun pertumbuhannya itu bisa dua digit dan berada di batas atas target,” ujar Nelson.

Pada tahun ini, OJK menargetkan pertumbuhan kredit perbankan akan berada dikisaran 9 persen hingga 11 persen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad memastikan pertumbuhan kredit hingga Juni membaik dan sudah berada diatas 9 persen.

“Pertumbuhan kredit masih normal, lebih dari 9 persen. Jadi saya kira masih sesuai dengan tracknya,” terangnya.

Muliaman pun menilai, memasuki semester kedua tahun ini, muncul optimisme perbankan dalam menjalankan bisnisnya. OJK pun saat ini memilih menunggu adanya revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang diperkirakan akan masuk akhir bulan ini.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk memproyeksi pertumbuhan kredit sampai Juni 2017 sebesar 16 persen hingga 18 persen secara tahunan (yoy).Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan, pertumbuhan kredit ini disumbangkan oleh beberapa sektor terutama dari perdagangan, restoran hotel, dan jasa dunia usaha.

“Selain itu sebagian pertumbuhan kredit ini juga disumbangkan oleh penyaluran kredit sektor listrik gas dan air,” ujarnya.

Kendati demikian, BNI sebelumnya mengaku tak akan merubah target pertumbuhan kreditnya yang berada kisaran 14 persen hingga 16 persen.

Sebelumnya, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengaku berencana merevisi ke atas target penyaluran kreditnya dalam revisi RBB. Target kredit yang sebelumnya sebesar 12 persen dinaikkan menjadi 12,6 persen.

“Rencana kemarin (RBB 2017) dibuat waktu masih September 2016. Nah, kami melihat progress positif dari pertumbuhan ekonomi, jadi target pertumbuhan kredit kami naikkan,” tutur Haru. (agi)