Penjualan Mobil Bekas Terjun Bebas

Tak hanya berdampak pada operasional pabrik serta penjualan mobil baru, pandemi Corona Covid-19 juga berimbas pada penjualan mobil bekas atau seken. Beberapa dealer mobil bekas mengeluhkan turunnya angka penjualan mereka.

Secara umum di kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang terutama setelah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penjualan nyaris tidak ada.

Untuk menyiasati pembeli sepi, customer lama yang sudah pesan kembali di-follow up. Sebaliknya customer baru tidak ada.

“Saya lihat industri mobil bekas termasuk yang terkena dampak sangat dalam akibat pandemi corona dan PSBB. Angka pastinya tidak tahu, karena industri mobil bekas datanya tidak terorganisir. Beberapa teman dari bursa juga menyampaikan bisa turun sampai 80 persen, dan di Auto Value juga turunnya sama sampai 80 persen,” sebut Business Development Head, PT Suzuki Indomobil Sales, Hendro Kaligis.

Hendro menambahkan, jika dilihat dari data bulan Maret, penjualan Auto Value tidak turun, malah naik.

Baca Juga: Info Konsumen: Pengajuan Relaksasi pembiayaan mobil anda di BCA finance (KKB BCA)

“Maret naik hampir 70 persen dari Februari, dan boleh dikatakan yang tertinggi dalam satu tahun terakhir, mengalahkan PIK-nya tahun lalu, bulan Mei pas puasa. Saat itu kami sudah confidence akan survive, ternyata di akhir Maret dan puncaknya PSBB tiarap semua,” keluhnya.

Siapkan Strategi Baru

Perusahaan jual beli mobil bekas dibawah payung PT Suzuki Indomobil Sales ini pun bikin strategi jitu untuk mendongkrak penjualan di tengah pandemi COVID-19. Auto Value memang tidak menyiapkan formula khusus untuk mengdongkrak penjualan mobil bekasnya.

“Dulu waktu pandemi kami baru mulai bikin strategi, tapi saat ini prioritas dan daya beli masyarakat sudah hilang. Orang bergeser untuk beli kebutuhan primer di saat kondisi ekonomi sedang lesu,” tambah Hendro.

Namun, Auto Value tetap memantau pergeseran dan priotritas daya beli masyarakat guna mempertahankan penjualan mobil bekas pada kondisi sepi pembeli.

“Kami berharap kita sudah masuk masa recovery bulan Juni mendatang. Kami tidak tahu ya bagaimana ke depan, apakah akan ada pelonggaran dan industri dibuka lagi. Mudah-mudahan semuanya akan membaik,” pungkas Hendro.

Sumber: Otosia.com

Cara Bawa Mobil ke Pedalaman Papua, Sewa Pengangkutnya Seharga Fortuner

Papua merupakan sebuah pulau eksotis yang di sana terdapat berbagai macam keindahan dan kekayaan alam yang melimpah ruah.

Meski begitu, secara infrastruktur, daerah paling ujung timur di Nusantara itu bisa dikatakan masih tertinggal dibandingkan daerah lain apalagi Jawa.

Tak heran jika di sana masih ditemui jalan tanah yang menjadi lumpur ketika hujan, apalagi jika menuju daerah pedalaman.

Namun, di pedalam Papua itulah terkandung banyak kekayaan yang kini mulai diekplorasi oleh beberapa pihak yang berkepentingan.

Hingga terbentuk sebuah lingkungan yang tentu saja memerlukan alat transportasi modern seperti alat berat ataupun mobil.

Masalahnya, dengan jalan yang masih banyak berupa tanah, bagaimana membawa mobil ke pedalaman Papua yang terkenal berkontur naik turun khas pegunungan.

Beberapa orang telah membocorkan cara mengangkut mobil yaitu dengan cara dibawa menggunakan helikopter yang sewanya pun nggak main-main.

Membawa mobil ke pedalaman Papua.[Facebook/Sigit Arifianto.]

Jika ingin membawa mobil ke daerah pedalaman, usahakan bawa mobil yang mahal sekalian, karena harga sewa helikopter pengangkutnya saja seharga sebuah Toyota Fortuner baru.

Baca Juga:Info Konsumen: Pengajuan Relaksasi pembiayaan mobil anda di BCA finance (KKB BCA)

Dan jangan membayangkan mobilnya akan dibawa dengan cara dimasukkan ke dalam helikopter karena jelas tak akan muat.

Cara membawa mobil-mobil ke pedalaman Papua adalah dengan cara digantung pada bagian bawah helikopter dengan tali baja yang mampu menahan beban hingga puluhan ton.

Ngeri banget bukan? Tapi begitulah cara paling efektif membawa mobil ke pedalaman yang bermedan ekstrem. Harus dengan cara yang ekstrem juga.

Artikel Asli

Ini Bahayanya jika Kebut-kebutan Saat Jalanan Lengang

Adanya pandemi Corona serta larangan mudik dari pemerintah, membuat jumlah kendaraan di jalan raya maupun di tol menjadi berkurang.

Dengan kondisi jalanan yang lengang, terkadang membuat pengendara lupa dengan batas kecepatan yang diperbolehkan.

Terlebih saat melaju di jalan bebas hambatan. Tak sedikit yang memacu kendaraannya hingga melebihi batas kecepatan atau di atas 100 kilometer per jam.

Padahal, memacu kendaraan dengan kecepatan melebihi batas yang diperbolehkan sangat berbahaya karena bisa meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan.

Apabila terjadi kecelakaan, maka tingkat keparahannya atau fatalitasnya juga akan lebih tinggi bahkan bisa menimbulkan korban jiwa.

Training Director The Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan mengatakan, bahwa kebut-kebutan di jalan tol sangat berisiko. Meskipun kondisi jalan sangat lengang atau minim lalu lintas.

“Berbahaya sekali, karena saat kita ngebut bisa meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas,” katanya saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (9/5/2020).

Marcell menambahkan, hal ini disebabkan ketika mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi maka pandangan akan jadi tunnel vision.

Baca juga:Info Konsumen: Pengajuan Relaksasi pembiayaan mobil anda di BCA finance (KKB BCA) 

“Di mana fokusnya hanya pada satu titik di depan saja sedangkan pandangan kanan kiri menjadi blur (tidak jelas),” ucapnya.

Bahkan, ketika pengendara lain masuk di jalur yang sama bisa saja pengemudi akan kaget sehingga bisa melakukan tindakan yang membahayakan.

“Seperti banting setir atau ngerem mendadak. Jalan sudah dirancang untuk suatu kecepatan tertentu baik lebar maupun konturnya,” tutur Marcell.

Dia menambahkan, setiap berkendara di jalan raya maupun di jalan tol ada batas kecepatan maksimum yang diperbolehkan.

Selain itu, jika pengendara melajukan kendaraannya hingga melebihi batas tersebut maka akan bisa berbahaya karena kestabilan kendaraan menjadi berkurang.

Makanya di setiap jalan ada batas maksimum kecepatan kendaraan, karena melebihi dari maksimum kecepatan maka stabilitas mobil akan berkurang,” ujarnya.

Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo juga mengimbau kepada para pengendara agar tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan batas kecepatan.

Meskipun jalanan lengang bukan berarti pengendara bisa memacu kendaraannya hingga melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan.

“Patuhi rambu dan jangan melanggar batas kecepatan, memang kecelakaan menurun tetapi fatalitasnya meningkat,” kata Samdo.

Penulis: Ari PurnomoEditor: Aditya Maulana

Artikel Asli

Perhatikan 5 Risiko Mobil Jarang Dipakai karena PSBB

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah di Indonesia membuat banyak mobil lebih banyak tidak digunakan.

Namun masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa mobil tidak akan rusak jika tidak dipakai dalam waktu lama.

Asumsi ini justru salah, karena mobil yang dibiarkan menganggur selama berminggu-minggu dapat menimbulkan “penyakit” baru pada komponen-komponen penting mobil.

Karena sudah tidak dibarengi dengan pengecekan dan perawatan secara rutin seperti saat mobil masih sering dikendarai.

Tak dipungkiri berkurangnya intensitas penggunaan mobil akan berimbas pada beberapa risiko kerusakan komponen krusial pada mobil, jadi mobil yang jarang dipakai belum tentu akan terbebas dari masalah.

Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, mari simak beberapa komponen mobil yang paling berpeluang rusak agar tahu cara pencegahannya selama masa PSBB masih berlangsung.

1. Aki tekor

Risiko pertama adalah pada komponen kelistrikan tepatnya pada komponen aki. Hal ini akan dirasakan saat pertama kali menyalakan mobil yang sudah lama tak digunakan.

Mobil akan menjadi sulit dinyalakan karena adanya penurunan daya listrik dengan sendirinya. Penurunan daya listrik ini berbeda-beda kondisinya tergantung pada umur dan kualitas aki, semakin tua umur aki maka akan semakin mudah kehilangan daya simpan tenaga listrik.

Tipsnya, hidupkan mesin setiap hari tanpa perlu menghidupkan sistem kelistrikan yang lain sekitar 10-15 menit.

Waktunya bisa lebih atau kurang tergantung kondisi. Sesekali jalankan mobil untuk pengisian daya listrik pada aki yang lebih maksimal.

2. Tekanan angin pada ban berkurang

Tekanan angin pada ban berkurang terjadi jika mobil terparkir terlalu lama, meyebabkan bagian ban yang menapak langsung dengan aspal akan menjadi rata, membuat bentuk ban menjadi tidak lagi bundar utuh.

Akibatnya, akan terjadi ketidakseimbangan ketika mobil pertama kali dijalankan setelah sekian lama terpakir.

Selain itu penyebab tekanan angin pada ban berkurang juga disebabkan oleh karet penutup yang berubah tekstur atau bisa juga disebabkan adanya bagian yang tidak rata antara ban dan pelek.

Tipsnya, jalankan mobil beberapa saat (maju-mundur) atau masuk-keluar garasi secara rutin. Upayakan posisi pelek dan karet penutup ban juga berubah posisi tumpuan.

Hal ini bertujuan agar tekanan angin pada ban akan terdistribusi secara merata dan ban tidak terlalu lama tertumpu hanya pada satu titik tertentu saja.

3. Bahan bakar mengendap

Iklim di Indonesia yang tropis membuat udara lembab akan menyebabkan pengembunan pada tangki dan saluran bahan bakar jika mesin tidak dihidupkan dalam waktu lama.

Akibatnya, yang terjadi adalah bahan bakar akan tercampur dengan air yang menguap sehingga dapat mengurangi kualitas bahan bakar serta berpotensi menimbulkan karat pada tangki/saluran bahan bakar yang terbuat dari besi.

Adapun bahan bakar di Indonesia terutama solar bio-diesel, jika dibiarkan terlalu lama akan terjadi endapan yang akan menyumbat saluran bahan bakar.

Tipsnya, saat memanaskan mobil, cek indikator water separator dan filter bahan bakar pada meter cluster.

Rajinlah untuk memeriksa dan mengganti filter bahan bakar secara rutin agar bensin yang dikirim untuk proses pembakaran akan tersaring dan bersih dari partikel kotoran dan karat.

4. Karat pada piringan cakram rem

Ketika mobil tidak digunakan dalam durasi yang cukup lama, ditambah dibiarkan terkena hujan karena terparkir di tempat terbuka.

Karat akan timbul pada piringan cakram yang dimana hal ini merupakan proses alamiah antara lingkungan dengan benda yang berunsur besi.

Jika terus dibiarkan akan menyebabkan berkurangnya performa rem dan juga akan menimbulkan bunyi saat mobil pertama kali dipakai kembali.

Tipsnya, sebaiknya mobil tetap dijalankan minimal satu kali dalam seminggu, karena karat pada piringan cakram pada umumnya akan hilang dengan sendirinya ketika mobil sudah dijalankan sejauh 3-5 meter, karat akan hilang karena adanya gesekan dari kampas rem.

5. Kuman dan debu pada saluran AC

Penting untuk diketahui, bahwa AC mobil yang jarang digunakan tidak lah akan menjadi lebih awet, ditambah AC yang jarang beroperasi akan memiliki udara yang tidak bersikulasi.

Hal ini dapat menyebabkan endapan debu dan kuman di seluruh bagian saluran AC yang berdampak pada kualitas udara di dalam kabin mobil ketika mobil hendak dipakai kembali.

Tipsnya, disarankan agar rutin memanaskan mesin mobil sambil menyalakan AC sekitar 5-10 menit minimal seminggu sekali. Ini bertujuan agar gas pendingin freon tidak mengendap dan membiarkan ada nya sirkulasi udara pada kabin mobil.

Menjaga kesehatan tubuh saat pandemi masih berlangsung seperti sekarang ini sangatlah penting, namun jangan sampai lupa, perhatikan juga kesehatan mobil kesayangan Anda dengan menerapkan tips-tips di atas.

Artikel Asli

Info Konsumen: Pengajuan Relaksasi pembiayaan mobil anda di BCA finance (KKB BCA)

Sebagai bentuk kepedulian kami atas wabah Virus Corona (COVID-19) yang semakin meluas dan sejalan dengan kebijakan pemerintah serta arahan otoritas jasa keuangan (OJK)

BCA Finance (KKB BCA) memberikan relaksasi pembiayaan kepada debitur yang terdampak langsung wabah Virus Corona (COVID-19) dengan skema yang ditentukan oleh BCA Finance.

Segera ajukan relaksasi pembiayaan mobil anda di BCA finance.
Sekarang pengajuan relaksasi pembiayaan makin mudah.

94999949_554008212194217_73028347083977048_n

Siapa yang berhak mengajukan Restrukturisasi / keringanan pembiayaan

95001395_253795602480615_4325506322119097272_n

Debitur yang terdampak langsung wabah Virus Corona (Covid-19)

1. Dengan nilai pembiayaan di bawah 10 Miliar;
2. pekerja sektor informal dan / atau pengusaha UMKM
3. Tidak memiliki tunggakan sebelum tanggal 2 Maret 2020 saat Pemerintah RI mengumumkan Virus Corona (Covid-19)
4. Pemegang unit kendaraan/jaminan yang namanya tercantum di dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen (PPK) dan tidak boleh diwakilkan / dikuasakan;
5. Unit kendaraan yang dijaminkan masih dalam penguasaan debitur.

Tata Cara Pengajuan Restukturisasi / keringanan pembiayaan:

95100863_152285272940638_27215379544831537_n

Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Angsuran Mobil akibat dampak wabah Covid-19 Klik di sini

Debitur tidak perlu datang ke kantor BCA Finance

Pengecekan Status Permohonan Relaksasi Pembiayaan Mobil

Kunjungi Situs BCA Finance Klik Disini

Disarankan menggunakan browser Google Chrome / Firefox.

Jika Anda belum menerima No. Laporan, silahkan kirim email ke customercarebcaf@bcaf.id untuk menanyakan no laporan tersebut dengan format subject email : Belum terima No Laporan pengajuan Covid-19 <spasi> isi No kontrak Anda

Semua Informasi dapat dilihat di channel-channel resmi BCA Finance, diantaranya:

94763507_100411591653789_2544252175155838645_n

1. Website BCA Finance (www.bcafinance.co.id);
2. Webchat BCA Finance (bit.ly/webchatBcaf);
3. App BCA Finance (bit.ly/BCAFapps);
4. Call Center BCA Finance (Halo BCA 1500888)

 

View this post on Instagram

Testimoni perwakilan konsumen, terkait Relaksasi Pembiayaan Mobil di BCA finance . . . . Perlu info lengkap seputar Relaksasi Kredit? Konsumen tidak perlu datang ke kantor BCA Finance Gunakan layanan digital & Channel-channel resmi kami: 1. Website www.bcafinance.co.id 2. Webchat BCA Finance (bit.ly/webchatBcaf) 3. App BCA Finance (bit.ly/BCAFapps) 4. Call Center BCA Finance (Halo BCA di nomor 1500888) Informasi selengkap-langkapnya ada di channel-channel tersebut diatas. Terimakasih atas perhatian & kerjasamanya. Semoga kita selalu diberika kesehatan dan kemudahan. . . . #cukupdarirumah #dirumahaja #kreditAmanBCAfinance #bcafinance #car #cars #carlovers #like #cargram #instacar #drive #street #autotren #relaksasikredit #mobilbaru #mobilbekas #engine #vehicle #relaksasi #banjir #suzuki #honda #toyota #daihatsu #mazda #wuling #mitsubishi #nissan #covid_19

A post shared by PT BCA FINANCE (@mybcaf) on

Ajukan segera Relaksasi Pembiayaan Mobil anda di BCA Finance sebelum batas waktu yang telah ditentukan.

Terima kasih atas kerjasamanya
Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kemudahan.

 

Sumber: BCA Finance

WhatsApp Image 2020-05-01 at 15.45.17

 

Inilah Mobil-Mobil Volkswagen yang Tidak Pernah Dijual

Sejak dulu Volkswagen dikenal sebagai mobil yang merakyat sebagaimana terjemahan merek dagang mereka. Banyak mobil-mobil mereka yang hadir dan sukses menarik minat konsumen di seluruh dunia sebut saja VW Beetle. Tapi bukan berarti VW tidak bereksperimen dan berkreasi untuk menciptakan model-model. Ide-ide liar inilah yang kemudian melahirkan terobosan seperti Phaeton, Golf GTI, dan bermacam model non ‘merakyat’ nan menyenangkan.

Dilansir dari autocar.co.uk, VW sebenarnya memiliki banyak model lain yang disiapkan. Namun beberapa di antara prototipe ini tak pernah dilepas ke pasar, entah apa alasannya. Koleksi mobil-mobil ini hadir di museum kelolaan VW di Wolfsburg: ZeitHaus dan Stiftung.

Di kedua museum ini ditampilkan mobil konsep, prototipe, bahkan model yang tak pernah diperlihatkan kepada publik. Banyak model adalah sedan atau hatchback. Mobil-mobil ini mungkin menjadi cikal bakal VW masa kini. Kira-kira ‘engkong’-nya siapa ya?

1963 EA 128

Sedan menawan bertenaga kuat tidak ada dalam kamus VW di tahun 1960an. Tapi para insinyur di belakang layar ternyata punya imajinasi berbeda. EA 128 dibuat guna memperdalam hubungan VW dengan Porsche, sekaligus mengangkat image VW untuk naik kelas. Pasalnya, ia terlahir sebagai sedan empat pintu berbekal mesin 2.0 liter flat-six dari Porsche 911. Begitu pula rancangan suspensi belakang, menganut komposisi sang ikon Porsche. Bertenaga 89 hp, cukup untuk membawa sedan ini berlari di jalur cepat Autobahn.

Namun sayang, EA 128 hanya bertahan sampai tahap prototipe. Para pimpinan mengkhawatirkan reaksi publik ketika melihat sedan mewah dari sebuah merek yang seharusnya merakyat. Dilema antara merek dan hasrat ini pun terus berlangsung sampai 1990an. Barulah ide EA 128 berhasil dituangkan ketika proyek VW Phaeton disetujui para pejabat perusahaan. Cikal bakal Phaeton? Tampaknya sah-sah saja bila menganggap demikian.

1969 EA 276

Sekitar 6 tahun kemudian muncul EA 276. Model ini berhubungan erat dengan Golf generasi pertama. Inilah bentuk upaya VW mencari pengganti sang primadona, Beetle. Secara desain paling mengotak di antara purwarupa desain lain di masa itu. Mesinnya juga tidak lagi di belakang dan sudah menggerakkan roda depan. Tapi jangan keliru, EA 276 belum menggendong unit water-cooled sebagaimana Golf terlahir ke dunia. Di balik bonnet bersemayam jantung flat-four air cooled dari VW Kodok. Ia menjadi gambaran bagaimana kemajuan desain VW di masa itu dalam keterbatasan teknologi.

1971 ESVW I

ESVW I merupakan bagian dari studi terkait keselamatan penumpang. Di awal 70an VW serta pabrikan lain bekerja sama dengan Departemen Transportasi (DOT) AS mengembangkan mobil anti-maut. Pabrikan ditantang untuk menciptakan mobil teraman, tak peduli seberapa mahal atau buruk rupa, yang penting sanggup melindungi penumpang saat terjadi kecelakaan.

Lahirlah mobil ini. VW mengadopsi wajah berbahan plastik penyerap energi hantam. Di kabin, panel-panel terbungkus material empuk, berikut inovasi teknologi lain. Memang bukan sebuah model cantik, minimal dapat diasumsikan fitur-fitur keselamatan ini diadopsi ke model produksi lain.

1975 Chicco

Sebelum versi produksi si mungil Up! meluncur, banyak orang menduga VW bakal memberi nama Chicco. Nama itu membawa kembali ke 1975, saat VW bertindak sesuai jati diri untuk menciptakan mobil membumi. Mereka menumpahkan imajinasi city car kompak sekaligus lapang. Terdengar kontradiktif tapi berhasil tercipta walau hanya sebatas studi. Diukur memanjang 3,28 meter, Chico sanggup mengangkut empat penumpang.

Pemacu tiga silinder berkapasitas 0,9 liter hadir di moncong, sanggup menghasilkan 39 hp. Pada dasarnya merupakan unit empat silinder berpendingin cairan yang dipapas satu silinder. Diposisikan melintang untuk menggerakkan roda depan. Hal ini ditujukan agar ukuran kompartemen mesin tetap kompak. Ia memiliki pengaruh terkait bagaimana VW meracik city car.

1984 IRVW III

Memanfaatkan basis Jetta generasi kedua, IRVW 3 menjadi bagian riset teknologi canggih. Bayangkan sebuah sedan kompak pada tahun 1984 dibekali suspensi udara terkomputerisasi, ABS, dan alat navigasi elektronik. Jantung pacu mengandalkan unit empat silinder turbodiesel 1,8 liter, menghasilkan tenaga sebesar 180 hp. Sangat besar di masa itu, mencapai kecepatan 200 kpj di Autobahn bukan sebuah masalah. Sebagai pembanding, turbodiesel terkuat Jetta hanya sanggup gelontorkan 79 hp.

Terdengar terlalu berlebihan untuk ukuran sedan sekelas Jetta. Wajar lantaran Jetta ini digunakan untuk ‘test bed’ saja, bukan prototipe sebuah model anyar. Barulah bertahun-tahun kemudian teknologi mutakhir ini diadopsi satu per satu.

1987 T3 Magma

VW pernah mempertimbangkan gaya offroad pada T3, jauh sebelum Touareg meramaikan dunia SUV. Prototipe ini hadir pada 1984 membawa nama T3 Magma, mengubah rancangan eksterior dan Interior Transporter. Grille khusus dilubangi penerangan tambahan, dilindungi peranti offroad seperti bulbar dan winch. Tak hanya itu, rombakan desain ditujukan ke fender flare dan kelir two-tone. Agar menarik perhatian, mesin empat silinder 2,1 liter ditugaskan mempersenjatai pikap tangguh ini.

Entah atas dasar apa, yang pasti VW tidak menggolkan proyek ini. Mungkin disebabkan tidak berhasil menarik minat target konsumen, atau bisa jadi dirasa tidak perlu lantaran T3 memasuki pengujung usia di Eropa dan Amerika Utara.

AHMAD KARIM | RAJU FEBRIAN

Artikel Asli

Mudik, Mobil Pribadi Hanya Boleh Angkut Setengah Kapasitas

Meski tak ada larangan resmi soal mudik Lebaran 2020, namun pemerintah akan mengeluarkan regulasi ketat bagi masyarakat yang nekat pulang kampung di tengah pagebluk atau wabah virus corona (Covid-19).

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat ini, mengaku tengah mematangkan Peraturan Menteri (Permen) Perhubungan untuk pengendalian transportasi dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19, termasuk sebagai acuan saat mudik.

Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati mengatakan, beberapa aturan akan dilakukan sesuai regulasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pada sektor transportasi akan ditempuh dengan penerapaan physical distancing yang tak hanya berlaku bagi kendaraan umum, tapi juga pribadi.

Baca juga: Aktivitas Pabrik Tak Dilarang, tetapi Wajib Terapkan Protokol Ini

“Untuk kendaraan pribadi akan diberlakukan hal yang sama, yaitu pengaturan jarak fisik. Intinya untuk mobil pribadi itu patokannya 50 persen dari kapasitas,” kata Adita dalam pesan singkatnya kepada Kompas.com, Rabu (8/4/2020).

Dengan adanya ketetapan tersebut, artinya untuk mobil sejenis multi purpose vehicle (MPV) yang semula mampu menampung hingga tujuh penumpang, hanya boleh mengangkut tiga sampai empat penumpang saja.

Begitu juga untuk jenis kendaraan lain seperti sedan dan city car. Bisa jadi hanya akan boleh membawa dua penumpang saja dari kapasitas aslinya.

Sementara bagi masyarakat yang terpaksa mudik dengan sepeda motor, hanya akan diperbolehkan berkendara sendiri alias solo riding.

“Sepeda motor tidak dapat membawa penumpang,” ucap Adita.

Baca juga: PSBB Jakarta, Belum Ada Pembatasan Akses Keluar-Masuk Ibu Kota

Ketika ditanya bagaimana sistem pengawasan untuk pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, Adita mengatakan, detailnya akan diinformasikan setelah Permen keluar. Tapi dia memastikan akan mengandeng kepolisian.

Sebelumnya, Kepala Korps Lalu Lintas Polri (Kakorlantas) Irjen Pol Istiono mengatakan, selain ada kewajiban isolasi diri selama 14 haru saat tiba di kampung halaman dan kembali ke kota, akan ada pembatasan jumlah penumpang pada kendaraan pribadi.

Contohnya untuk mobil pribadi seperti sedan, hanya boleh mengangkut dua penumpang dengan kriteria satu menjadi sopir dan satunya lagi penumpang di belakang. Untuk minibus hanya ditumpangi tiga penumpang.

“Bahkan untuk yang terpaksa mudik dengan motor, tidak diperkenankan berboncengan. Tetap jaga jarak, karena penularan ini yang sangat berbahaya. Kesadaran dari masyarakat juga dituntut di sini,” kata Istiono yang disitat dari NTMC Polri.

Penulis: Stanly RavelEditor: Agung Kurniawan

Artikel Asli