Beton vs Aspal, Mana Yang Lebih Baik Untuk Jalan Indonesia?

0000456245

Tidak sedikit orang bertanya-tanya mengapa terdapat jalan yang dibeton namun sebagian lagi diaspal? Mengapa jalanan tidak dibeton semua untuk menghindari perbaikan jalan yang sering kali terlihat. Ternyata dalam membangun jalan, pemilihan material antara beton dan aspal tak bisa sembarangan.

Direktur Preservasi Jalan Direktorat Jendral Bina Marga, Hedy Rahadian yang ditemui Otosia mengungkapkan bahwa terdapat faktor efisiensi biaya yang mempengaruhi pemilihan tersebut.

“Dalam membangun jalan yang selalu dilihat adalah jangka panjangnya. Mana yang paling murah secara secara jangka panjang,” ucap Hedy.

Karakter beton dengan aspal sendiri berbeda dalam hal biaya yang dikeluarkan. Akibatnya kondisi di lokasi pembangunan ikut berpengaruh dalam pemilihan.

“Beton itu kan investasi awalnya tinggi, tapi pemeliharaan lebih jarang. Aspal investasi awal murah, namun pemeliharan besar,” jelas Hedy.

Adapun kondisi yang dimaksud adalah jumlah kendaraan atau beban yang melewati. Jalan yang dilewati sedikit kendaraan dengan beban relatif ringan akan lebih cocok menggunakan aspal. Berbeda dengan padat lalu lintas atau dilewati angkutan berbobot besar seperti truk atau bus yang lebih sesuai dengan jalan beton.

“Tergantung situasi dan lokasi. Kalau yang lewat satu atau dua kemudian dibeton 30 cm jadinya mahal. Kalau yang lewat beban berat kemudian diaspal, mungkin jadi mahal juga karena sering rusak. Jadi kita lihat dari biaya keseluruhan masa layan material itu sendiri,” jelas Hedy.

Artikel Asli

Semoga postingan ini berkenan

Like + Komentar + Share ya ^_^

Like Fanspage Facebook: https://goo.gl/eE4wzE

Join Group FB – I Love Indonesia: https://goo.gl/TC6Z3W

Kunjungi Website Asemka Online-Portal Berita: https://goo.gl/3paGn4

Join Group FB – Komintas Otomotif: https://goo.gl/YiY3yr

Kunjungi Website ini bagi Anda yang menginginkan berita otomotif indonesia & kredit mobil:

https://kreditkerenbanget.org/

Terima kasih

Jokowi Bangun Ratusan Km Tol Trans Sumatera, Dananya Dari Mana?

Jokowi Bangun Ratusan Km Tol Trans Sumatera, Dananya Dari Mana?

Jakarta– Dari total panjang Tol Trans Sumatera 2.818 Kilometer (km), 820 km di antaranya ditarget rampung hingga tahun 2019 mendatang. Sebagian besar ruasnya ditugaskan pengerjaannya kepada BUMN PT Hutama Karya (HK) seperti diatur dalam Peraturan Presiden No. 117/2015, perubahan dari Perpres No. 100/2014 tentang percepatan pembangunan jalan tol di Sumatera.

Penugasan tersebut diberikan ke HK mengingat perusahaan tersebut merupakan satu-satunya BUMN konstruksi yang dimiliki sahamnya secara penuh oleh pemerintah. Metode penugasan dilakukan lantaran Tol Trans Sumatera dikategorikan tak layak secara finansial, anggaran pemerintah yang terbatas namun pembangunannya dibutuhkan untuk pengembangan ekonomi kota-kota di Sumatera.

Berdasarkan data PT Hutama Karya yang diterima detikFinance, seperti dikutip Sabtu (14/10/2017), sumber pembiayaan tol Trans Sumatera kini dibebankan kepada Hutama Karya sepenuhnya. Namun, dalam hal ini, pemerintah memberikan fasilitas berupa penyertaan modal negara (PMN) dan juga penjaminan dari bond dan obligasi yang dilakukan oleh HK.

HK sendiri memiliki beberapa sumber pembiayaan untuk membangun Tol Trans Sumatera. Di antaranya dari PMN, two step loan, pinjaman dari lembaga pinjaman, termasuk institusi multilateral yang dijamin oleh pemerintah, pinjaman dari lembaga pembiayaan pemerintah seperti PT SMI, dan sumber dana lainnya yang bisa didapatkan Perseroan sesuai ketentuan perundangan.

Seluruh utang perusahaan dalam hal penugasan ini dijamin oleh pemerintah. Hutama Karya akan menggarap 8 ruas prioritas Trans Sumatera, yakni Medan-Binjai, Palembang-Indralaya, Bakauheni-Terbanggi Besar, Pekanbaru-Dumai, Terbanggi Besar-Pematang Panggang, Pematang Panggang-Kayu Agung, Palembang-Tanjung Api-api, dan Kisaran-Tebing Tinggi.

Kedelapan ruas tersebut menjadi prioritas karena ditaget beroperasi hingga akhir tahun 2019 mendatang. Selain itu ada 3 ruas prioritas tambahan yang akan dibangun, yakni Medan-Banda Aceh, Padang-Pekanbaru, dan Tebing Tinggi-Parapat.

Dalam membangun 8 ruas prioritas itu, HK membutuhkan biaya investasi sebesar Rp 73,9 triliun (tidak termasuk dukungan pembiayaan dari pemerintah). Untuk membiayainya, HK akan mengandalkan pendanaan dari ekuitas sebesar Rp 44,18 triliun dan dari pinjaman sebesar Rp 29,72 triliun.

Adapun saat ini jumlah ekuitas yang dimiliki oleh HK untuk mendanai proyek ini baru sebesar Rp 19,1 triliun, yang bersumber dari PMN 2015-2016 sebesar Rp 5,6 triliun, contractor turn key sebesar Rp 7 triliun dan current bonds sebesar Rp 6,5 triliun. Hal ini menyebabkan HK masih memiliki kekurangan pendanaan tol Trans Sumatera sebesar Rp 25,1 triliun lagi.

Kekurangan pendanaan tersebut diharapkan dapat dipenuhi misalnya melalui Penyertaan Modal Negara (PMN), sekuritisasi aset hingga pendapatan dari pengoperasian tol akses Tanjung Priok.

Artikel Asli