Beton vs Aspal, Mana Yang Lebih Baik Untuk Jalan Indonesia?

0000456245

Tidak sedikit orang bertanya-tanya mengapa terdapat jalan yang dibeton namun sebagian lagi diaspal? Mengapa jalanan tidak dibeton semua untuk menghindari perbaikan jalan yang sering kali terlihat. Ternyata dalam membangun jalan, pemilihan material antara beton dan aspal tak bisa sembarangan.

Direktur Preservasi Jalan Direktorat Jendral Bina Marga, Hedy Rahadian yang ditemui Otosia mengungkapkan bahwa terdapat faktor efisiensi biaya yang mempengaruhi pemilihan tersebut.

“Dalam membangun jalan yang selalu dilihat adalah jangka panjangnya. Mana yang paling murah secara secara jangka panjang,” ucap Hedy.

Karakter beton dengan aspal sendiri berbeda dalam hal biaya yang dikeluarkan. Akibatnya kondisi di lokasi pembangunan ikut berpengaruh dalam pemilihan.

“Beton itu kan investasi awalnya tinggi, tapi pemeliharaan lebih jarang. Aspal investasi awal murah, namun pemeliharan besar,” jelas Hedy.

Adapun kondisi yang dimaksud adalah jumlah kendaraan atau beban yang melewati. Jalan yang dilewati sedikit kendaraan dengan beban relatif ringan akan lebih cocok menggunakan aspal. Berbeda dengan padat lalu lintas atau dilewati angkutan berbobot besar seperti truk atau bus yang lebih sesuai dengan jalan beton.

“Tergantung situasi dan lokasi. Kalau yang lewat satu atau dua kemudian dibeton 30 cm jadinya mahal. Kalau yang lewat beban berat kemudian diaspal, mungkin jadi mahal juga karena sering rusak. Jadi kita lihat dari biaya keseluruhan masa layan material itu sendiri,” jelas Hedy.

Artikel Asli

Semoga postingan ini berkenan

Like + Komentar + Share ya ^_^

Like Fanspage Facebook: https://goo.gl/eE4wzE

Join Group FB – I Love Indonesia: https://goo.gl/TC6Z3W

Kunjungi Website Asemka Online-Portal Berita: https://goo.gl/3paGn4

Join Group FB – Komintas Otomotif: https://goo.gl/YiY3yr

Kunjungi Website ini bagi Anda yang menginginkan berita otomotif indonesia & kredit mobil:

https://kreditkerenbanget.org/

Terima kasih

Pola Pikir Jaringan dan Kemacetan Lalu Lintas

Pola Pikir Jaringan dan Kemacetan Lalu Lintas

Tak jarang kita menemukan jalan-jalan tol Jakarta yang macet pada jam-jam tertentu, sementara arus lalu lintas di ruas lainnya relatif lancar. Sebaliknya, dalam waktu-waktu tertentu pula, jalan yang semula macet itu berada dalam keadaan sepi atau lengang.

Kondisi ini juga berlaku di jalan-jalan non-tol.

Pada momen lain, jalanan yang macet pada waktu tertentu itu akan terurai ketika ada petugas yang berjaga dan mengatur arus di titik-titik simpulnya.

Dalam hal ini, tentunya saya tidak bermaksud  mengatakan bahwa persoalan kemacetan bisa diatasi hanya lewat pengaturan dan penegakan hukum semata. Namun, kesimpulan sederhana yang bisa ditarik dari dua ilustrasi di atas adalah sesungguhnya jalan tol dan non-tol masih memiliki kapasitas ruang memadai agar kemacetan tidak terjadi.

Dengan kata lain, dua kasus di atas menunjukkan bahwa masalah kemacetan bukan sekadar soal daya tampung jalan yang tidak memadai.

Namun, mengapa upaya pemerintah untuk mengurai kemacetan justru lebih terfokus pada masalah daya tampung jalan?

Upaya-upaya itu lebih sering berkutat pada masalah terobosan penambahan kapasitas jalan, baik dengan membuat jalan baru atau menambah kapasitas jalan lama – secara horizontal maupun vertikal.

Atau, contoh lainnya, pengurangan jumlah atau volume kendaraan, misalnya dengan pengaturan genap-ganjil, batasan jam (3 in 1), atau larangan terhadap jenis kendaraan tertentu seperti becak.

Selain itu, juga dilakukan penataan ulang ruang kota lewat pembagian ruang-ruang aktivitas sosial seperti area bisnis, perkantoran, hiburan/rekreasi, pemukiman dll – dikelompok-kelompokan, agar lebih mudah mengatur arus lalu-lintas, sehingga mampu mengendalikan kepadatan volume kendaraan.

Kedua upaya di atas, pada kondisi tertentu dan dalam jangka pendek, memang relatif efektif untuk mengurai kemacetan.

Hanya saja, seiring dengan upaya mengatasi kemacetan itu,  secara bersamaan ruang-ruang bisnis, kantor, hunian, rekreasi juga bertumbuh secara luas biasa, baik  horizontal maupun vertikal. Demikian pula dengan jumlah produksi kendaraan serta pertumbuhan penduduk yang dipengaruhi kelahiran dan migrasi.

Tentu pertumbuhan-pertumbuhan itu tidak bisa dicegah dan kemudian melampaui pertumbuhan ruang atau kapasitas jalan. Pada akhirnya, pertumbuhan ruang jalan lalu-lintas tidak sebanding dengan tingkat pertumbuhan semua itu, tidak mampu mengejarnya  karena keterbatasan ruang atau lahan dan biaya yang tersedia.

Namun, perlu diingat bahwa semua aktivitas sosial, termasuk berlalu-lintas, selalu terkait “ruang dan waktu”.

Selama ini kita lebih berkutat pada masalah “ruang” sehingga upaya mengurai  kemacetan lalu-lintas selalu hanya terfokus pada penyiasatan ruang, entah itu  penambahan atau pengaturan ruang, baik itu jalan atau ruang aktivitas sosial lainnya.

Demikian juga dengan pengaturan tentang jaringan atau keterhubungan semua titik simpul baik itu area kegiatan, titik-titik simpul jalan, jalan penghubung antar titik-titik simpul tsb, dan arus dari titik yang satu menuju titik yang lain, sebagai satu kesatuan yang utuh agar masing-masing jalur tidak dialiri muatan yang melebihi kapasitasnya.

Ini semua memperlihatkan bahwa perhatian kita masih tetap terfokus pada persoalan ruang, dan hanya sedikit  yang terfokus pada waktu. Sejauh ini, soal waktu hanyadikaitkan  sebatas kelancaran atau waktu tempuh.

Persoalan waktu itu belum dikaji seluas dan sedalam seperti saat   mengupas persoalan ruang atau koneksitas antar-ruang.

Atau, lebih tepatnya, kita hanya menyiasati ruang dan waktu di jaringan jalan, tetapi tidak atau belum menyiasati waktu untuk ruang-ruang selain jalan raya.

Ini sesungguhnya suatu ironi. Di saat era digital memunculkan sifat kesegeraan dan keserempakan, lalu-lintas justru membuat kita menjadi susah karena kemacetan yang semakin padat dan tak terkendali.

Kita mungkin bisa bercermin pada layanan publik satu-pintu atau layanan online seperti e-banking, toko online, taxi online, travel online. Layanan-layanan ini bisa membuat kendala ruang dan waktu tak jadi masalah.

Mereka membuat hidup kita menjadi serba mudah, cepat dan efisien. Tak hanya itu, mereka sebenarnya juga ikut mengurangi kemacetan lalu-lintas.

Ini yang belum terpikirkan kita dalam persoalan kemacetan. Seberapa besar sumbangsih layanan-layanan online ini dalam mengurangi kemacetan.

Tentu diperlukan adanya kajian lebih lanjut., tapi yang pasti mereka telah berhasil memampatkan ruang dan waktu.

Catatan untuk Aplikasi Online

Satu hal yang perlu diingat juga, aplikasi online tidak selalu menguntungkan atau memudahkan hidup . Perlu dipahami terlebih dahulu untuk bisa menggunakan atau memanfaatkannya secara bijak.

Misalnya saja aplikasi seperti Google Map atau Waze. Kita bisa memilih jalan-jalan yang bisa membuat lebih cepat sampai ke tujuan berdasarkan arahan aplikasi online, bisa melihat jalan-jalan yang macet dan tidak macet.

Hanya saja, aplikasi onlinepun belum banyak menolong untuk menghilangkan kemacetan.

Alasannya adalah, ketika mengetahui ada kemacetan di sepanjang rute perjalanan kita, maka kita bisa menghindari dengan memilih rute yang ditawarkan oleh aplikasi online tersebut.

Namun, pada saat kita bergerak menuju jalan-jalan yang dianjurkan, secara bersamaan pula beberapa pengendara lain – yang secara kebetulan menghindari kemacetan di area tertentu atau area yang sama tadi – menempuh jalan alternatif yang sama pula.

Akibatnya, dalam perjalanan, volume kendaraan di jalur alternatif ini pun padat dan terus meningkat.

Kita lupa bahwa salah satu karakter utama dari dunia online adalah “kesegeraan dan keserempakan”, menyebabkan pengendara berbondong-bondong pula menggunakan rute yang disarankan  Google Map atau Waze tadi.

Ini seperti yang diungkapkan oleh peraih nobel 2017, Richard Thalet sang pakar Behavioral Economics, bahwa kita sering berpikir irasional, yang disebutnya Herd Thinking.

Bila ada salah satu pengendara belok kiri (keluar dari jalan yang macet), maka berbondong-bondonglah pengendara yang lain ikut belok ke kiri. Ibarat sebuah buku, yang dilabel best seller, maka jumlah penjualan akan terus melonjak. Jadi, fasilitas digital Ini, juga memberikan sumbangan terhadap cepat menularnya penyakit “latah”, sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan.

Memang, tekonologi informasi dan komunikasi di era digital ini, kadang bisa menguntungkan, tetapi bisa juga merugikan. Semua tergantung cara kita memahami dan bijak menyikapinya.

Dalam hal ini, kita memang masih perlu melek digital – literasi digital.

Kembali pada persoalan mengatasi kemacetan lalu-lintas. Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa upaya  selama ini lebih terfokus pada persoalan “ruang” – tentang menyiasati ruang (jalan) yang terbatas dan koneksitas antar ruang-ruang aktivitas, tetapi belum memberikan banyak perhatian pada persoalan “waktu” – yaitu, bagaimana kita menyiasati waktu.

Sudah saatnya kita mempertanyakan kenapa kita harus berbondong-bondong ke kantor pada jam 08.00 – 17.00, atau kenapa anak-anak belajar di sekolah ramai-ramai pada jam 07.00 – 13.00.

Mari kita berikan perhatian kita untuk menyiasati “waktu”, sebab semua aktivitas manusia selalu berada pada “ruang dan waktu”.

Kita terkoneksi tidak hanya berdasarkan ruang, tetapi juga oleh waktu.

(vws)

Artikel Asli

Pertama di Indonesia, Driving Simulator Hino Seharga Rp 700 Juta

Pertama di Indonesia, Driving Simulator Hino Seharga Rp 700 Juta

TANGERANG (DP) — PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) mengklaim, menjadi merek kendaraan komersial pertama yang memiliki fasilitas driving simulator di Indonesia.

Simulator yang harganya Rp 700 juta ini dihadirkan sebagai fasilitas pelatihan bagi para pengemudi dari customer Hino, sekaligus sebagai salah satu aktivitas total support Hino terhadap konsumennya.

Dengan adanya simulator mengemudi ini diharapkan para pengemudi truk dan bus, dapat dilatih mengenai keselamatan berkendara dan efisiensi dalam berkendara, yang tentunya nanti membuat pengemudi lebih mahir dalam berkendara.

Ke depannya pengemudi dapat berkendara lebih aman, dan dapat mengurangi angka kecelakaan. Karena pentingnya peran simulator tersebut, sehingga alat ini masuk dalam kurikulum pelatihan yang PT HMSI berikan kepada setiap konsumen, yang datang ke Pusat Purna Jual dan Pelatihan HMSI untuk melakukan training.

“Truk simulator ini sebagai fasilitas edukasi untuk keselamatan berkendara, dan ini sebagai bentuk dukungan Hino terhadap kampanye keselamatan di jalan yang sedang giat dilakukan pemerintah. Di mana sebagai APM kami ingin ikut berpartisipasi dalam menjaga keselamatan pengemudi-pengemudi truk Hino,” ungkap Irwan Supriyono, Senior Executive Officer After Sales HSMI.

Uniknya, simulator mengemudi ini dibuat dengan kabin dan tampilan yang sama dengan truk Hino sesungguhnya, dengan dilengkapi layar monitor yang akan menampilkan simulasi berkendara selama kurang lebih 10 menit, lengkap dengan berbagai variasi kondisi jalan dan rintangan.[dp/Hml]

Fortuner Tabrak Tiang Listrik, Kompetitor Ramai-Ramai Menyindir??

Fortuner vs Tiang Listrik – Tragedi Fortuner yang menabrak tiang listrik akhir-akhir ini memang ramai dibicarakan para warganet. Peristiwa yang melibatkan Ketua DPR tersebut bahkan membuat Toyota turut membuka suara mengenai tidak mengembangnya airbag pada mobil buatannya tersebut. Sebelmunya, ada sejumlah pihak yang menuding jika Fotuner memiliki system keamanan yang buruk, yang membuat Toyota langsung angkat bicara.

Fortuner Tabrak Tiang Listrik, Kompetitor Ramai-Ramai Menyindir??

Tak hanya itu saja, menariknya, di tengah panasnya perbincangan mengenai hal tersebut, rupanya paa competitor Toyota tuut meraimaikannya. Beberapa diantaranya “menyidir” melalui postingan yang diunggah di media social masing-masing. Seperti yang dituliskan Daihastu pada akun Instagrammnya yang menuliskan sebuah caption “Fitur keselamatan mobil seharusnya selalu digunakan agar terhindar dari luka berat. Contohnya safety belt yang wajib digunakan juga oleh penumpang di belakang. Supaya terhindar dari benjol hasil dari tabrakan, khususnya tabrakan dengan tiang listrik”. Tulisan tersebut pun seolah menyindir peristiwa tabakan tersebut.

Tak hanya itu saja, Nissan pun rupanya tidak mau ketinggalan untuk meramaikannya. Di mana dalam akun Instagram resminya, pabrikan tesebut mengunggah sebuah video ilustrasi system keamanan Nissan yang mampu mengamankan dari kecelakaan dari tiang listrik. Uniknya, dalam captionnya Nissan menuliskan sebuayh tagar #savetianglistrik, yang juga banyak digunakan netizen lain untuk menyindi peristiwa tersebut. “Menikung dengan kecepatan tinggi lebih presisi, terkendali, tanpa risiko keluar jalur berkat teknologi Active Trace Control dari Nissan yang mengatur pengereman otomatis secara individual di setiap rodanya. #Nissan #IntelligentMobility #savetianglistrik.” Tulis Nissan.

Suzuki pun turut memposting hal serupa dengan mengunggah sebuah gambar sasis mobil buatannya dengan penjelasan keamanan. Di mana, dalam caption gambar tersebut Suzuki menuliskan jika dengan teknologi yang dimilikinya penumpang akan tetap aman meskipun mobil menabrak tiang listrik. “Meredam dampak benturan dari depan seperti menabrak tiang listrik akan tetap aman dengan teknologi HEARTECT. Bobot hantaman dari depan akan terdistribusi ke samping sehingga penumpang di depan terlindungi. Apalagi ada dual AirBag plus seatbelt with pretentioner, gegar otak bisa terhindarkan! #suzuki #safetydriving #heartect.” Tulisnya.

Artikel Asli

Cara Mudah Hitung Biaya Pajak Kendaraan di STNK

Cara Mudah Hitung Biaya Pajak Kendaraan di STNK

Biaya Pajak Kendaraan di STNK

 

Otosia.com – Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) adalah surat penting sebagai bukti registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor.

Namun, masih banyak orang yang bingung menghitung berapa besar pajak kendaraan yang mereka miliki. Besaran pajak biasanya baru diketahui saat pembuatan atau perpanjangan STNK baru.

Kini, pemilik kendaraan bisa dengan mudah langsung menghitung pajak kendaraan yang harus ditanggungnya. Sehingga saat datang ke Kantor Samsat, pemilik kendaraan sudah mempersiapkan uang yang harus dibayarkan.

Dilansir dari akun resmi facebook Divisi Humas Polri, berikut cara penghitungan pajak kendaraan:

1. Bea Balik Nama kendaraan bermotor (BBN KB)
Besarnya 10 persen dari harga motor atau mobil baru. Sedangkan untuk motor dan mobil bekas, besarannya 2/3 pajak (PKB)-nya.

2. Pajak kendaraan bermotor (PKB)
Besarnya 1,5 persen dari nilai jual motor atau mobil. Pajak ini sifatnya menurun tiap tahunnya berdasarkan penyusutan nilai jual motor atau mobil.

Baca juga: Rekor Penjualan Mobil 2 hari pecah di BCA Expo 2017!

3. Sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan (SWDKLLJ)
Sumbangan ini dikelola oleh jasa raharja. Untuk motor besarannya Rp35 ribu, sedangkan mobil Rp143 ribu.

4. Biaya Administrasi STNK
Untuk motor biayanya Rp100 ribu, sedangkan mobil Rp200 ribu.

5. Biaya administrasi Tanda Nomor Kendaraan (TNKB)
Untuk motor atau mobil baru, tidak dikenakan biaya. Namun apalbila ganti plat nomor (5 tahun sekali) atau balik nama, baru dikenakan biaya administrasi. Untuk motor Rp60 ribu, sedangkan mobil Rp100 ribu.

6. Denda Pajak Kendaraan Bermotor
Apabila jatuh tempo masa berlaku STNK belum melakukan perpanjangan maka akan dikenai denda PKB dan denda SWDKLLJ.

Perhitungan Denda PKB : 25 persen per tahun
Terlambat 3 bulan = PKB x 25 persen x 3/12
Terlambat 6 bulan = PKB x 25 persen x 6/12

Artikel Asli

 

========================================================================

Konsultasikan pembelian Mobil impian Anda bersama konsultan profesional Kami klik |===>disini <====|Like + Komentar + Share ya!

Jika Anda berminat untuk di follow up lebih lanjut oleh tim marketing kami.

Dalam waktu maksimal 3 x 24 Jam, Tim kami akan menghubungi Anda.

Silahkan klik Tombol dibawah ini

images

Terima kasih atas kunjungan Anda pada situs Kredit Keren Banget.
Kami sangat menghargai komentar atau saran Anda agar kami dapat memberikan pelayanan terbaik. Bila berkenan like Fanspage Facebook Kredit Keren Banget

KKB Regional X
WTC Mangga Dua
Lt. 3 (Di atas KCP BCA Mangga Dua)

Jl. Mangga Dua Raya, RW.5, Mangga Dua Sel., Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10730, Indonesia
021-6126962
Hari Kerja: Senin – Jumat
Jam 9 Pagi s/d 5 Sore

Pemilik Kendaraan Bermotor, Apakah Tahu SWDKLLJ?

Jasa Raharja (Ilustrasi)

Bagi pemilik kendaraan bermotor saat membayar pajak kendaraan bermotor (PKB) ke Kantor Samsat (Sistem Administasi Manunggal Satu Atap) akan dikenaik biaya SWDKLLJ yang tercantum di lembar Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

Apakah para pemilik kendaraan tahu apa itu SWDKLLJ (Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan), dan kegunaannya untuk apa? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Kepala Cabang PT Jasa Raharja Sumsel Taufik Adnan, Rabu (8/11), melakukan sosialisasi kepada pemilik kendaraan bermotor yang tengah menunggu giliran membayar PKB di kantor Samsat Palembang II yang terletak di komplek Pusat Perbelanjaan OPI Mal.

Taufik Adnan menjelaskan SWDKLLJ adalah kepanjangan dari Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. “Dengan membayar SWDKLLJ berarti kita melakukan gotong royong dan membantu korban kecelakaan lalu lintas yang dikelola oleh perusahaan BUMN yang bernama PT Jasa Raharj,” katanya.

Menurut Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Bapenda (Badan Pendapatan Daerah) Palembang II Herryandi Sinulingga, tarif SWDKLLJ tergantung dari tipe kendaraan.

Untuk motor berkapasitas mesin 50cc s/d 250 cc akan dikenai tarif Rp 35 ribu, sedang untuk jenis sedan, jip dan lain-lain sebesar Rp 143 ribu.

“Kegunaan yang didapat dari SWDKLLJ akan memperoleh perlindungan dasar bila terjadi kecelakaan jalan raya yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor,” kata Herryandi.

Besarnya santunan yang diperoleh PT Jasa Raharja berdasar pada Ketetapan Menteri Keuangan RI No 15/PMK. 010/2017 dan 16/PMK. 010/2017 meninggal dunia sebesar Rp 50 juta, cacat (maksimal) sebesar Rp 50 juta, biaya rawat (maksimal) sebesar Rp 20 juta, dan biaya penguburan sebesar Rp 2 juta

Menurut Taufik Adnan, untuk mendapat pembayaran santunan dari PT Jasa Raharja harus mendapat laporan Kepolisian mengenai peristiwa kecelakaan lalu menghubungi kantor Jasa Raharja terdekat. Kemudian mengisi formulir pengajuan santunan dengan melengkapi, surat keterangan kesehatan dari dokter, KTP/jati diri korban/ahli waris korban). Jika korban luka-luka jadi dilampirkan kwitansi biaya perawatan & pengobatan yang asli sedang jika meninggal dunia dibutuhkan Kartu Keluarga (KK) atau Surat Nikah.

“Kita semua wajib tahu tentang SWDKLLJ, karena ada hak pemilik kendaraan,” kata Herryandi Sinulingga.

Artikel Asli

Jika Didiamkan, Lalu Lintas Jabodetabek Menuju Kiamat

Jika Didiamkan, Lalu Lintas Jabodetabek Menuju Kiamat

Indonesia Traffic Watch (ITW) mengingatkan lalu lintas (lalin) di Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) akan mengalami macet total dan lumpuh.

“Jika tidak segera diatasi, maka pelan tapi pasti kondisi lalin seperti saat ini akan menuju kiamat,” ujar Ketua Presidium ITW, Edison Siahaan dalam keterangannya kepada redaksi, Sabtu (21/10).

Menurut Edison, dampak kemacetan sangat membahayakan karena menimbulkan beban ekonomi masyarakat semakin berat. Kemacetan juga memicu ongkos kerja dan beban anggaran pemerintah semakin besar dan pemborosan penggunaan BBM yang membuat volume kebutuhan BBM meningkat.

Tidak hanya itu, kemacetan juga membuat para pengguna jalan mengalami gangguan fisik dan fsikis, sehingga menjadi emosional, cepat marah dan tersinggung, stress dan depresi. Semua gangguan akibat kemacetan itu dapat memicu usia semakin pendek.

Dalam kondisi lalin seperti saat ini, hendaknya pemerintah tidak lagi mencari penyebab untuk dijadikan kambing hitam. Apalagi dijadikan alasan untuk menutupi ketidakmampuan mengatasi kemacetan.

ITW mendesak pengambil kebijakan harus bertindak cepat, untuk memberikan solusi yang bukan hanya untuk kepentingan sesaat apalagi beraroma pencitraan.

“Bila tidak ada terobosan yang cepat dan kongkrit, maka kita sedang mengantar lalin menuju kiamat,” tegas Edison.

Hasil kajian ITW, ada lima upaya yang dapat dilakukan pemerintah khususnya Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru Anies-Sandi, sebagai kebijakan alternatif untuk menjadi solusi mengatasi kemacetan.

Pertama, Pemprov DKI segera merasionalisasi jumlah angkot seperti mikrolet, metro mini, kopaja, taksi online dan konvensional karena jumlahnya sudah melebihi dari kebutuhan. Tetapi terus beroperasi, sehingga menjadi pemicu terjadinya kemacetan.

Kedua, Pemprov DKI memastikan jumlah bus TransJakarta sudah dapat memenuhi kebutuhan dan menerapkan manajemen pelayanan tepat waktu khususnya pada jam sibuk. Serta memberikan jaminan sebagai transportasi yang aman, nyaman, selamat, sehingga diminati masyarakat. Ketiga, menjadikan TransJakarta sebagai bentuk pelayanan publik bukan perusahaan yang mengejar provit.

Keempat, mencabut kebijakan yang potensi mengganggu kelancaran arus lalin, seperti genap ganjil nomor polisi kendaraan. Dengan menerapkan kebijakan sistem buka tutup satu arah khususnya jalur masuk dan keluar Jakarta dan jalan protokol pada periode atau waktu tertentu. Kelima, marakkan kampanye tertib lalin bersamaan dengan penegakan hukum yang konsisten.

Artikel Asli

2016, 3 orang tewas setiap jam karena kecelakaan lalu lintas

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Pembinaan Keselamatan Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Pandu Yunianto, mengungkapkan, berdasarkan data Kepolisian, jumlah kecelakaan sebanyak 108.374 kejadian dengan korban meninggal dunia 25.859 jiwa pada 2016. Jika dihitung dalam satu hari rata-rata sekitar 70-71 jiwa atau 2-3 orang tiap jamnya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Jumlah korban kecelakaan berdasarkan pendidikan yang tertinggi adalah Pelajar SMA sebanyak 45.321 kejadian dan dilihat berdasarkan usia pelaku kecelakaan lalu lintas di dominasi usia 16-24 tahun sebanyak 24.917 kejadian.

Data lainnya jumlah laka lantas berdasarkan faktor mengemudi yang disebabkan karena melampaui batas kecepatan sebesar 7.369 kejadian.

“Menanggapi hal tersebut, sudah selayaknya semua stakeholder menunjukkan kepedulian terhadap permasalahan keselamatan lalu lintas jalan di Indonesia,” ujarnya saat persiapan acara puncak Pekan Keselamatan Jalan 2017, di Kantornya, Jakarta, Jumat (20/10).

Pandu menjelaskan, pendidikan keselamatan dan sosialisasi harus dilakukan secara terus menerus untuk mengubah persepsi dan pandangan masyarakat tentang pentingnya berperilaku selamat di jalan.

“Penanaman nilai-nilai keselamatan jalan harus dimulai sejak usia dini untuk menumbuhkan semangat disiplin berlalu lintas sehingga nilai-nilai tersebut dapat menjadi nilai-nilai kehidupan,” kata Pandu.

Dia menambahkan Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa lebih dari 186.000 anak di seluruh dunia meninggal karena kecelakaan lalu lintas setiap tahunnya. Dengan kata lain, anak-anak merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap ancaman kecelakaan lalu lintas.

Maka dari itu, lanjutnya, sangat penting memberikan edukasi kepada anak sejak usia dini tentang pentingnya keselamatan berlalu lintas.

Artikel Asli

Penyebab Utama Buruknya Lalu Lintas Paling Umum


Lalu Lintas
Kondisi lalu lintas di Mampang Prapatan (Foto: Amos Arya)

JAKARTA – Kemacetan, pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan diyakini 90 persen akibat ulah para pengguna jalan raya.

Berbagai masalah lalu lintas tersebut pasti sudah umum ditemui di jalanan kota-kota besar di Indonesia. Polda Metro Jaya sendiri mengakui masih kesulitan untuk menemukan solusi terbaik untuk mengatasi masalah lalu lintas tersebut.

Kombes Pol Halim Panggara selaku Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengungkapkan bahwa berbagai masalah lalu tersebut 90 persen diakibatkan oleh manusia. Tak hanya itu saja, kecelakaan yang sering terjadi selalu diawali dari pelanggaran lalu lintas para pengguna jalan raya.

“Para pengguna kendaraan bermotor baik itu roda empat dan roda dua seharusnya bisa siap diri, siap berkendara dan siap mematuhi lalu lintas. Sehingga semua masalah lalu lintas bisa diatasi dan tidak ada yang dirugikan,” tutur Kombes Pol Halim Panggara di Jakarta.

Selain faktor kesalahan para pengguna jalan, tidak berfungsinya infrastruktur, kurangnya disiplin dalam berlalu lintas dan kondisi kendaraan yang tidak baik juga menjadi salah satu faktor pendukung masalah tersebut. Tidak terkecuali salah satu infrastruktur yang telah menjadi bahan pembicaraan di sosial media yaitu trotoar.

“Infrastruktur dibangun dengan baik agar permasalahan lalu lintas tidak timbul, contohnya trotoar. Saat ini saja trotoar tidak berfungsi dengan baik karena dipakai oleh pedagang kaki lima, pangkalan ojek dan banyak motor yang melintas. Wajar saja para pejalan kaki merasa terganggu dan kemacetan selalu ada di mana saja,” jelas AKBP Budiyanto, Kasubdit BinGakum Polda Metro Jaya.

Sedangkan untuk kedisiplinan dalam berkendara menjadi faktor ketiga dalam permasalahan lalu lintas. Penggunaan helm (safety gear) dan mematuhi peraturan lalu lintas menjadi masalah kedisiplinan yang sangat berpengaruh untuk menghindari kecelakaan.

“Pengguna kendaraan bermotor di Indonesia ini sangat tidak disiplin. Mereka hanya disiplin kalau ada petugas kami yang sedang bertugas. Bahkan berhenti di stop line traffic light saja sangat sulit, wajar banyak kecelakaan yang terjadi,” tambah Budiyanto.

Faktor terakhir yaitu kondisi kendaraan yang tidak baik. Di mana masih banyak pengguna jalan raya tidak memperhatikan kondisi kendaraannya sehingga dapat merugikan pengguna jalan lainnya.

Artikel Asli